Minggu, 31 Desember 2017

hujan dan kamu adalah Rindu

Jadi, kira-kira begini..
Aku tidak pernah menyukai malam, 
karena dia fase merubah hari disaat terkadang kita tak siap memulainya.
Karena malam selalu disimbolkan dengan kegelapan,
malam selalu dikaitkan dengan keresahan.
Apalagi dengan Hujan, aku juga tak pernah menyukainya,
hujan selalu disebut-sebut pembawa kenangan, peluapan masalalu
hujan pasti membuat mereka-mereka merasakan kegalauan,
hujan juga menjadi penghalang bagi yang ingin berpergian.
Malam dan Hujan hanya membuat orang-orang merasa kesepian.
Tapi malam kemarin adalah malam kesukaanku,
berbeda dengan malam yang biasanya.
Tapi hujan kemarin adalah hujan favoritku,
berbeda dengan hujan-hujan lainnya.
Bahkan kemarin aku merasakan malam dan hujan sekaligus..

Kemarin aku merasakannya sekaligus, bersama dengan mu.
Malam dan hujan, aku sedang bersamamu.
Hujan itu membuat kita panik dengan berlarian kecil sembari mencari tempat meneduh.
Walaupun malam dan hujan kamu tetap gigih mengantarkan ku pulang, payung itu menjadi saksinya.

Bagaimana aku tak menyukainya?
Bagaimana malam itu tak berbeda?
Bagaimana hujan itu tak menjadi favorit?
Karena pada saat itu aku lakukan denganmu,
aku sedang bersamamu. 

Maka sejak saat itu, malam dan hujan menjadi kesukaan dan favoritku.
Setelah malam itu, hujan dan kamu adalah Rindu...
Tetapi Hujan dan Kamu juga menjadi Sendu, 
karena kita tak mungkin bisa mengulangnya kembali...


Minggu, 17 Desember 2017

Ini cinta atau luka?

Ini cinta atau luka?
Karena rasa-rasanya keseringan menderita
Ini cinta atau duka?
Sebab selama ini selalu menerka-nerka

Kamu ini cinta juga atau aku saja?
Melalang buana kemana-mana mencari jawaban atas pertanyaanku sendiri
Aku ini yang terlalu memakai perasaan atau kamu yang hanya ingin mempermainkan?
Karena sayang, sikap dan tingkah lakumu selalu berhasil membuatku terpana

Kedekatan kita selama ini berarti apa?
Karena bagiku sudah luar biasa meluluhkan seluruh hatiku
Bagaimana dengamu?
Kamu anggap sebagai apa kedekatan kita, sebagai teman ya?
Memang ini kenyatannya...
Aku selalu mengartikan segala tentangmu itu berlebihan dan mendiskripsikan segalanya terlalu ketinggian

Sabtu, 25 November 2017

mengapa aku harus menututmu menjadi milikku?

"Maafkan jika ini terasa berlebihan. Aku tidak peduli jika kamu menganggapku berdrama. Aku juga tidak peduli jika kamu menhanggapku berlebihan. Aku tidak peduli jika kamu memilih menjauh setelah tahu bahwa aku cuma gadis bodoh yang selalu melibatkan perasaan dalam setiap peristiwa yang aku alami. Aku tidak peduli jika hilangnya percakapan kita sebagai akibat bahwa kamu hanya ingin kita berteman biasa. Mungkin, aku terlihat menyebalkan dengan sikapku yang berlebihan. Tapi, percayalah, sekarang aku dalam keadaan mulai mencintaimu dan menerima kenyataan bahwa kita tak lagi sedekat dulu; cukup membuatku sekarat karena memikirkanmu. Dengarlah, bersamamu pun sudah cukup membuatku merasa ada, maka mengapa aku harus menututmu menjadi milikku seutuhnya?"


Source: dwitasaridwita.

Jumat, 27 Oktober 2017

KUASA HATI di Labirin Pikiranku

Harus mulai darimana ku tuangkan pikirian yang berasal dari hatiku ini?
Awalkah atau intinya saja?
Rasanya terlalu awal perkenalan kita untuk aku ceritakan dari awal..
Tetapi masih terlalu singkat perkenalan kita untuk langsung menceritakan intinya.

Tapi dari semua kesingkatan ini, mengapa aku sudah terjatuh?
Mengapa kamu sudah menjadi alasanku menunggu notif ponselku?
Tapi kenapa aku selalu mendoakan mu dalam sholatku?
Bagaimana bisa kamu hampir mengisi seluruh relung hati dan otakku?

Tunggu dulu, pikiranku ini rumit serumit labirin
Banyak teka-teki tentang semua ini
Terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan tentang kedatanganmu
Layaknya puzzle yang harus diselesaikan, aku kehilangan puzzle-puzzle yang harus kususun
Lalu..
Bagaimana bisa aku menyelesaikan teka-teki ini
atau menjawab atas pertanyaan-pertanyaanku sendiri
atau menemukan puzzle-puzzle yang hilang itu agar bisa ku selesaikan
Aku kehilangan semuanya.. kau merenggut hampir segalanya..

Kamu bagaikan penguasa hati dan menjadi labirin di pikiranku
Sepertinya kamu adalah jawaban dan penyelesaian dari kerumitan dan masalah ini
Mana mungkin kau mau jadi jawaban itu, sejelas kenyatan bahwa aku yang mengagumi tapi aku sedang menutupinya saja, aku tak mau tau pahitnya kenyataan
Namun kalau begitu mengapa kau datang padaku?
Karena kedatanganmu itu, aku sudah mulai menggantungkan harapanku padamu

Sikap ramah mu, kenyamanan saat mengobrol denganmu, bentuk tubuh itu,
kepintaranmu itu, masa depanmu yang jelas itu penyusun wajahmu itu..
Sungguh terlampau sempurna, kalau bisa aku nilai kau bernilai 101
dan aku ini hanya bernilai 1.

Dengan segala kesempurnaan yang kamu miliki,
aku tak bisa membandingkannya dengan ku
Kita ini tidak memiliki perbandingan yang garis lurus, kamu terlalu tinggi sehingga susah digapai
Kamu terlalu sempurna untukku, aku tau diri saja.
Kamu membuat diriku ini jatuh sejatuh-jatuhnya untuk berdampingan denganmu
Membuatku terbanting sebanting-bantingnya saat bersamamu
Tidak pantas..
Tidak cocok..
Tidak sesuai..
Tidak sebanding..
Kata-kata itu yang selalu muncul dikepalaku.

Pasti kamu juga berpikir seperti itu, bukan?
Kamu hanya bersikap ramah saja kepadaku setelah pertemuan itu
atau sebelum itu juga kamu hanya ingin mengenalku
Aku saja yang terlalu berlebihan, berpikiran kemana-mana, bermimpi bisa berdampingan denganmu
Sepertinya sudah terbukti dari selisih durasi saat kamu menjawab pesan-pesan singkatku
Tapi aku saja yang berusaha menutup-nutupinya.

Jelaskan mengapa kamu harus datang padaku dengan penuh misteri?
Kamu bilang ingin dekat denganku, lalu bolehkah aku berharap dengan kata-katamu itu?
Jelaskan bagaimana kamu bisa mengetahuiku?
Apa aku hanya terlalu percaya diri, bepikiran telah dicari oleh kamu.
Tentu saja tidak hanya aku, bagimana tidak dari kesempurnaan yang kamu miliki, siapa yang tidak mau?

Aku ini selalu diam disini, diam-diam sudah jatuh padamu
Diam-diam sudah menyukaimu
Diam-diam sudah memiliki rasa ketertarikan padamu
Diam-diam sudah mengagumi
Diam-diam telah menggantungkan harapanku padamu.
Semoga kau juga begitu, aku hanya bisa berdiam diri disini sambil mengharapkanmu melalu doa di setiap sholatku.
Aku berharap doa-doaku itu akan menjadi kenyataan suatu saat nanti.

Jumat, 22 September 2017

Sajak Lembayung untuk Hatikah atau Senja?

Harus kutuangkan apa dilembaran ini, jika senja dan hatiku memiliki definisi yang sama.
Sama... hangat yang dimiliki hatiku saat melihat senyummu.
Oranye senja melukiskan indahnya wajahmu.

Senang bukan main rasanya saat melihat lembayung senja, sama halnya seperti aku saat bertemu denganmu, senangnya ini tak bisa ku kerangkakan apalagi digambarkan atau bahkan aku definisikan, rasanya ingin terus melihatmu...

Aku tau, ini delusiku semata, aku tau ini terlalu hiperbola..
Aku tau semua yang terlalu itu tidak baik, tetapi kamu itu.. memang keluarbiasaanku..

Kamu sama seperti senja, menenangkan sekaligus menakutkan.
Aku takut, rasa ini terus berlanjut dan tak ada habisnya, dan kamu itu hanya diam membisu karena tak tau perasaanku ini.

Tetapi hatiku ini tidak bisa sejelas senja, karena aku ini menyimpan rasa diam-diam terhadapmu dan senja yang aku anggap itu kamu.

Kamis, 21 September 2017

Puisi untuk yang aku pikirkan

Namamu bagai sajakku ini, aneh.
Wajahmu seperti biru di langit bumi, nyaman
Rambutmu hitam pekat bak malam yang mendung
Matamu seperti senja di februari, menenggelamkan ku dalam duniamu
Senyummu bak terik matahari di januari,
Membara seperti rasa suka ini..

Sembilu hatiku karena mendiamkan rasa ini
Lalu bisa apa aku ini? 
Aku ini bak batu bagi kamu, bagaimana tidak.. aku ini baru saja kamu ketahui.
Kamu terlalu kaku seperti kayu,
Kamu itu seperti air yang beku, dingin, tak bisa ku cairkan hatimu.. 
Dirimu bak musim hujan saat desember, dingin
Tapi, rasa ini masih saja menggebu-gebu. 
Biar aku tak kau toleh, setidaknya hangatlah kepadaku sedikit saja. 
Aku menyukaimu, pemilik nama yang menarik..



Kamis, 31 Agustus 2017

RINDUKU

Siang ini, aku teringat lagi kepadamu ntah hal apa penyebabnya.
Mungkin kah ini rindu? 
Rindu bagaimana kau menyapaku, cara mu memperhatikan ku, 
Rindu ku ini tak tau apa alasannya.
Baru aku kenal dirimu kemarin yang lalu itu, tetapi..
dengan cara mu yang pandai membuat luluh, kau menjadi pusat pikiranku.

Tapi diriku kalah dengan gengsiku, aku tak tau membalas perhatianmu
Mungkin kau jenuh, jenuh melihat tanggapanku yang tak seperti kau idam-idamkan
Akibat itu, sekarang aku hanya bisa merindukan mu.

Semenjak kita menjauh, seperti yang kau bilang 'layaknya ada yang hilang' mulai kurasakan.
Ketika kau menghindar, isi handphone ku itu rasanya tak ada yang berguna
Karena kamu tak ada di dalamnya..
Sesekali kau sapa diriku, dan kau masih menjadi penyebab rasa 'senang' ku walau sementara
Lalu.. kau pergi lagi.

Begini rupanya merindukan mu,'
Begini rasanya...
Ingin meronta tapi tak tahu atas dasar apa
Ingin memberontak pun aku tak tahu mengekspresikannya kepada mu.


Aku berharap Rinduku tak kau sia-siakan.

Si Tampan dengan Gaya-nya

Pria dengan sosok yang wibawa, dan gaya jalan yang berbeda dengan yang lainnya.
Dia dengan tatapan matanya pertama kali itu, berhasil membuatku terpikat.
Tatapannya sesuai dengan warna kulitnya yang putih itu membuat Mau!
Dia si Tampan ku itu memiliki senyum yang biasa saja tetapi tatapan itu.. mengangkatku bertemu dengan burung-burung layaknya terbang riang.
Pria itu memiliki pembawaan yang enak, jikalau sedang bersama nya bagaikan kau sedang dihidangkan dengan menu makanan favoritmu yang segesit mungkin ingin kau santap. 
Pria tampanku itu mempunyai perawakan yang membuat candu, membuat percakapan bersamanya selalu saja menyenangkan, tak pernah merasa bingung atau bosan akan kehabisan topik. Si Tampan-ku itu mempunyai cara nya sendiri untuk membuat kenyamanan itu. 

Hal yang aku sukai dari pria itu saat berbicara dengan nya,
Seakan-akan dia paling mengerti kamu. Seolah-olah dia merasakan perasaanmu.
Dia paling ingin tau duniamu, keseharianmu.
Pembawaan si Tampanku itu membuat candu, ingin terus bersamanya sepanjang hari, tak terlewatkan beberapa detik pun. Jelaskan, bahwa kau akan merasa amat di inginkan oleh dia itu.
Aku suka mimiknya ataupun gaya bahasanya yang hiperbola itu untuk membujukku
Aku suka dia merupakan pria yang inisiatif, layaknya yang diinginkan setiap wanita

Tuan Tampan, teruslah seperti itu agar beratusan juta manusia di Bumi ini kebagian merasakan enaknya dirimu. Biar manusia-manusia ini penasaran terhadapmu. 
Tampanku, senang bisa mengenalmu.

Terimakasih, Sayang

Hei tuan dengan perawakan unik, tuan yang memiliki alis dan mata yang indah. Ku kagumi pembentuk wajahmu, sungguh kau lebih cantik menjadi wanita, hehe..

Sayang, terimakasih telah menjadi bagian dari hidupku, kau memiliki halaman dan peran sendiri di lemba cerita hidupku.
Terimakasih, sayang telah membuatku mengerti apa arti sayang itu, arti cinta itu.
Terimakasih selama ini kau telah membuatku menjadi manusia yang seolah-olah paling di maui
Terimakasih telah kau beri kasih sayang dan cinta mu yang besar kepadaku
Kau buat aku merasa begitu seperti Putri Impian-mu. 

Maaf, aku yang menjadi besar kepala akan kecintaanmu kepadaku. 
Maaf.. aku menjadi acuh tak acuh terhadap perasaanmu yang lembut itu
Tapi, sungguh akupun dulu begitu.. begitu sangat mau kepadamu bahkan sekarang rasa itu masih tersisa.
Hei, Tuan jangan salah presepsi, tak mungkin kamu yang menjadi bagian hari-hariku selama setahun lebih itu begitu cepat ku lupakan.
Masih jelas teringat bagaimana kau menyayangiku dengan sikap manjamu itu, atau kau sedang tebakar api cemburu dengan gelagat amarahmu itu..
Terus semangat, sayang. Kejar cita-cita masa depanmu, aku mendukungmu dari sini. 
Datanglah kepadaku lagi,kalau kau mau, kalau kau telah menjadi manusia luar biasa menurut pendapatmu.




Untukmu yang selalu menjadikan ku Putri di Istanamu.

Bertahun-Tahun Lamanya...

Kamu, sosok indah yang selalu terngiang di benakku
Kamu.. yang selalu terlintas dalam kepalaku seperti asap rokok yang menggepul kau seakan tak bisa di genggam
Ku kagumi kamu sekian lamanya, sudah berapa tahun ya? Enam tahun kalau tidak salah perkira ku.
Matamu itu masih menjadi favoritku, 
Senyummu yang mahal itu masih menjadi canduku
Gaya rambutmu itu masih menjadi kesukaanku
Postur tubuh itu masih menjadi kegemaranku. Iya, Kamu masih menjadi pemandangan terindahku.
Kamu masih menjadi makhluk ciptaan Tuhan yang paling kusukai. Kau masih menjadi manusia favoritku yang hidup di Bumi.

Kamu masih ingat, betapa aku menggilaimu kan? 

Kamu pasti pahamkan seberapa inginku ke kamu? Seharusnya kau baca ini jikalau masih tak paham
Ku hilangkan gengsiku hanya untukmu, ku buang jauh-jauh kata-kata di otakku, ku tenggelamkan sedalam-dalamnya omongan orang hanya untukmu tapi kau tak pernah menoleh kepadaku, sedikitpun. Tapi tak apa, asalkan kau masih ada di bumi dengan sehatmu dan bahagiamu dan aku masih tetap menyukai mu!

Kata orang "Jangan dikejar, jangan di mau in ntar dia datang sendiri saat kau tak hiraukan dia" .. Omong kosong, nyatanya tak begitu sudah ku coba.

Kamu sering sekali merasa risih akan kehadiranku, walau kau tetap menyambutku dengan senyuman, kamu sering sekali merasa terganggu akan kedatanganku tetapi tetap kau tanggapi dengan baik.

Harus ku sebut apa perasaan ini? Kagum kah, Suka kah, Cinta kah, Sayang kah.. rasanya tak ada yang tepat. Ketidakinginanmu terhadapku membuatku terus menggilaimu. Kasih tak sampai ini, selalu saja mengikuti ku. Dalam hari-hariku pun tak bisa ku lupakan kamu, tak bisa ku tinggalkan kamu. Dalam situasi apapun, kondisi bagaimana pun, kau selalu saja menjadi nomor 1 di hatiku, cinta pertamaku. Si nomor satu yang tak acuh.. Benar kata orang cinta pertama takkan pernah berhasil.





Dari Lebah yang selalu menginginkan madu dari Bunga-mu
Selamat bertemu di Masa Depan!

SALAH

Hari itu kau datang tiba2, dengan sikap keramahanmu, mencoba mengenalku. 
Tak sampai disitu saja, kau terus datang kepadaku, mencoba menggeluti tentangku. 
Hari itu kau tetap ramah walau aku tak sering membalas kedatanganmu.
 
Lama hari berlalu, kau mulai mencari cela di hatiku, kau tanyakan "hal yang penting itu" , jangan salah paham saya tidak tergiur akan kedatanganmu, awalnya ku kira.


Terus larut, kau mencoba mencari kunci di hatiku, kau ucapkan kata-kata teduh mu itu, sungguh kau si pandai membuat senang. Lemah akan kata-katamu yang seolah-olah akan nyata datang kepadaku , sedikit aku percaya, kamu. 


Semakin larut.. kau mencoba membuka pintu hatiku dengan kuncimu. Kau masuk lebih dalam ke duniaku. Kata-kata mu, sayangku, sungguh meneduhkan hati dan pikiranku. 

Bagaimana tidak, kau bilang merasa hilang tanpa aku, kau bilang merasa kosong tanpa hadirku. Sungguh ku tergiur bagaikan singa yang kelaparan, kau pandai membuat singa itu jinak dan kekenyangan. Sungguh, sayang kau si pembuat nyaman. Tak apa ku panggil kau sayang jika kau pun begitu. 

Kemarin kau begitu meyakinkan ku akan kehadiran sosok teduhmu, walau kau hanya 'semu' blm ku tau rupamu tp ku tak perduli karena hatiku telah kau buka. Sungguh kau pemilik rumah hatiku. Ternyata, cinta maya itu benar adanya.


Kemarin kau ucapkan berulang-ulang kata-kata indahmu, suaramu di telfon kala itu sungguh meneduhkan duniaku yang gersang. Kau bertanya mengapa kita bisa sedekat nadi, kau tanyakan percakapan menuju kepastian hubungan. Kau teteskan air ke dunia gersang itu, selamat! 


Dengan kedatanganmu tiba-tiba , pergimu pun tiba-tiba. Ntah dimana salah ku, mengapa kau mencoba menjauh. Padahal aku sempat terngiuh akan pembicaraan kita ditelfon waktu itu. Apa kau tak mengerti maksudku bahwa kamu telah menjadi kenyamananku..

Pelan dan pasti kau hindari rumah ini, aku yang uring-uringan karena kelaparan, karena kekeringan, akan hadirmu.. akan kateduhanmu. Apa rumah hatiku tak semewah yang kau bayangkan? Apa tak seindah yang kau bayangkan? Apa tak senyaman yang kau idamkan? Apa kau tega membuang rumah dan duniaku? Apa kau sanggup? kau bilang kau tipekal yang tidak tegaan. Tapi nyatanya, Kau pergi meninggalkan rumah dan dunia ku. 

Tak ada yang bisa ku perbuat selain diam , karena berbicara pun kita belum 'nyata', karena memberontak pun tak tau mulai darimana, untuk mengkomplain pun tak tau bagaimana pembahasannya, untuk ku hampiri kau duluan pun aku tak bisa. 


Salah, iya salahku kurang memperhatikan tamuku.
Salah, iya salahku tidak pandai menanggapi setiap keteduhanmu
Salah, iya salahku menganggap semua akan menjadi nyata
Salah, iya tak seharusnya aku mudah percaya akan yang semu dan maya
Salah, iya salahku tak pandai memberi sinyal bahwa rumah hati dan duniaku sudah menjadi milikmu.




Dari Temanmu, mungkin
yang menyesal menyia-nyiakan,mu.